Perjuangan ANP di Coburg

Written by Shohwah Bossnia Maulidiyah, 21.01.2017

Studienkolleg Coburg, sekeping kenangan yang takkan bisa saya lupakan. Bagaimana saya struggle disana, mengenal serta memahami kawan-kawan dan kakak kelas yang super ramah. Okay, let’s the journey begin.

Awalnya saya nggak tau kalo STK Coburg ini “rada susah”, karena saya dari pertama kali menginjakkan kaki di jerman tahun 2012, sampai mau ikut ANP Coburg ini, nggak pernah tinggal di luar Bayern. Alasannya? Simple aja; I’m in love with Bavaria! Setelah searching sana-sini, ternyata Bayern Cuma punya 2 STK, yaitu di München (untuk Uni) dan Coburg (untuk HS). Ist mir bewusst, kalo saya bukan tipe orang yang belajar di Uni. So, saya memutuskan untuk ikut STK di Coburg. Nggak ada plan laiHi n, Coburg satu-satunya STK yang saya daftar. Pun, harapan saya buat keterima di Coburg amat sangat besar.

Saya cari-cari soal ANP di web nya STK Coburg. Saya download dan pelajari soal-soal tersebut. Deutsch bukanlah hal yang sulit sejak sebelumnya saya memang –alhamdulillah- lulus DSH. Kenapa saya ikut tes DSH kalo mau ikut ANP Coburg? Duh, panjang banget ceritanya kalo saya jabarin juga, hehe.. intinya mah, kelemahan saya saat itu adalah: MATHE. Menghitung mundur ke belakang… wah, ternyata udah lebih dari 2 tahun saya ngga nyentuh yang namanya mathe. Tapi berhubung ini salah satu ujian yang harus saya ikuti, saya akhirnya mulai-mulai belajar mathe 2 minggu sebelum ANP dimulai. Tiap hari mampir ke bib stadt buat belajar mathe, Alhamdulillah hat sich auch gelohnt J

3 hari sebelum ANP, saya tanya-tanya teman-teman yang punya kenalan yang tinggal di Coburg. Alhamdulillah, saya dapet seorang kakak kelas perempuan yang subhanallah sabar bangeett. Saya naik mitfahrgelegenheit dari Erlangen ke Coburg, tiba satu hari sebelum ANP. Saya dijemput oleh sang kakak baik nan cantik ini. Nah, salah satu nilai plus nya Coburg ini, orang-orang disini ramah-ramah euy! Buktinya aja saya dijemput sama si kakak di Hbf, wobei rumah doi dari hbf ngga ada 10 menit jalan kaki! Kalo doi mau bodo amat, bisa aja sih ya doi ngasih tau alamatnya doang, ngga perlu repot-repot jemput saya di hbf. Ditambah lagi, ketika saya tiba di wohnung doi, saya dikumpulkan dengan anak-anak lain yang mau ikut ANP juga besok pagi. Selagi kami belajar dan bahas soal-soal, ternyata sang kakak dan beberapa anak Coburg lainnya masak untuk kita-kita! Gimana ngga ketje coba! Belakangan, „penyambutan tamu“ ini jadi rutinitas WAJIB bagi kami, supaya adik-adik yang mau ANP bisa nyaman J

Padahal mah, harusnya kita-kita ini lah yaa yang sadar diri, nggak mau ngerepotin si kakak-kakak. Tapi emang pada dasarnya anak-anak Coburg ini emang berakhlak dan berhati baik, jadi aja ini itu disiapkan.

Malamnya, yang kebetulan saat itu sedang bulan ramadhan, kami buka puasa bersama di Aufenthaltsraum, sembari berjoking-joking ria, dan yang pasti saling berkenalan.

Tibalah hari H, saya deg-degan, takut kalo-kalo nggak lulus ANP. Tapi bismillah, saya niatkan semua untuk menuntut ilmu. Kalaupun memang garisnya bukan Coburg yang harus saya tempuh, pasti sudah ada hal lain yang menunggu saya di depannya. Saya melangkah kaki keluar dari wohnung sang kakak dengan bismillah, berjalan kaki kurleb 20 menit ke tempat ANP. Sesampainya disana, antrean ternyata sudah panjang saudara-saudara! Saya segera masuk gedung dan baris dalam antrean. Tiba giliran saya memasuki ruangan, Einladung dan passport saya pun diperiksa oleh seorang dosen STK Coburg, yang belakangan saya tahu namanya; Herr Elzinger. Herr Elzinger ini amat sangat ramah, ia tersenyum pada semua peserta ANP. Luar biasa Coburg, ramah-ramah ya dosennya. Mungkin bisikan batin saya itu mewakili batin sekian ratus peserta ANP lainnya.

Saya masuk ruangan dan dituntun sampai ke tempat duduk oleh wanita paruh baya, berkacamata, dan mengenakan topi fedora dilengkapi dengan hiasan bunga disampingnya. Chick sekali penampilannya, pikir saya. Ditempat duduk, saya segera mengeluarkan Wörterbuch dan kalkulator. Setelah semua peserta masuk ruangan dan duduk di tempatnya masing-masing, keluarlah seorang wanita cantik berpawai ramping dengan rambut lockig nya, dialah Frau Wagner, kepala sekolah STK Coburg. Beliau berdiri di atas podium, kemudian membawakan pidato dan kata sambutan untuk kami, para peserta ANP. Saya dibuat kagum olehnya. Cara bicaranya yang khas, perawakannya yang berwibawa, semua mencerminkan bahwa beliau adalah wanita cerdas. Selesai menyampaikan pidato, ujian pertama dimulai: deutsch. Kami diberi waktu 90 menit untuk menjawab soal yang terdiri dari leseverstehen, Grammatik, dan text Produktion tersebut. C-test sepertinya tidak ada dalam kamus coburg, entahlah.

Ujian deutsch berakhir, kami mendapat pause 30 menit. Yang lebih daebak lagi, pihak STK menyediakan Frühstück untuk peserta ANP! Gila, Bayern benar-benar totalitas menjamu tamu, salut!

Sayang, saya dan kawan-kawan muslim lainnya belum bisa menikmati jamuan para dosen tersebut.

Tiga puluh menit berakhir, kami digiring untuk kembali ke dalam ruangan dan memulai ujian berikutnya: mathe. Kali ini saya sedikit was was, takut kalau yang sudah saya pelajari menguap begitu saja ketika melihat soal, lantaran gugup yang berlebihan.

Setelah ujian berakhir, saya mencari kawan-kawan yang menumpang di Wohnung yang sama, kemudian saling mencocokkan jawaban. Disitu saya pasrah. Jawaban mathe saya hampir semua beda dengan kawan saya itu. Sudahlah, sekarang tinggal perkuat do’a.

Pulang ke Wohnung, saya dan si kakak berjalan-jalan di kota, menikmati setiap sudut kota kecil nan cantik itu. Dalam hati saya berharap, mudah-mudahan saya bisa menjalani kehidupan disini untuk satu tahun kedepan.

Jadwal pulang saya masih lama. Setelah berkeliling kota, kami kembali ke Wohnung dan mengistirahatkan tubuh sejenak.

Begitulah yang kira-kira saya alami. Satu bulan laamanya saya harus menunggu hasil dari ANP, sembari meminta do’a dari orang tua dan adik-adik, khususnya, dan dari keluarga besar serta kawan-kawan, umumnya.

Saat itu, rasanya saya sedang memasak di dapur, ketika sahabat saya -yang sedang mengunjungi saya- masuk ke dalam rumah serta membawa sepucuk surat untuk saya, surat yang saya tunggu-tunggu. Saya ngga berani membukanya, sehingga saya menyuruhnya untuk membukanya. Perlahan, ia membuka sisi surat tersebut dengan sangat hati-hati. Mulutnya terlihat komat-kamit, entah mantera apa yang diucapkannya. Sejurus kemudian, ia memasang wajah murung. Lutut saya lemas, ini pasti sebuah berita buruk, begitu pikir saya. Lalu, bak wanita yang sedang datang bulan, ia merubah lagi raut mukanya, menunjukkan kegembiraan, lalu memeluk saya dengan erat.

“selamat, show! Kamu keterima!” katanya setengah berteriak. Saya rasanya kurang percaya apa yang dia ucapkan. Saya lantas mengambil surat tersebut dari tangannya dan membacanya dengan seksama.

“… Sie sind zum Wintersemester 2014/15 zugelassen.” Begitu kira-kira kalimat yang saya baca. Saya dan sahabat saya senang bukan main. Lalu tanpa aba-aba, kami segera melakukan sujud syukur. Syukur atas kesempatan yang Dia beri untuk saya, syukur karena telah dikaruniai sahabat yang mengerti saya, dan masih syukur-syukur lainnya, yang tak bisa saya jabarkan satu persatu…


About author


Shohwah Bossnia Maulidiah

Shohwah Bossnia Maulidiah menjabat sebagai Sekertaris di kepengurusan PPI Franken tahun 2016 - 2017

Dia di Jerman sejak 2012, dan berkuliah di Technische Hochschule Georg Simon Ohm Nurnberg dengan jurusan Angewandte Chemie.