Pengalaman Bersama IKF

Written by Mirza Nur Anshari, 19.02.2017



Merantaulah karena disana kau akan dapatkan pengganti dari orang-orang yang engkau tinggalkan (kerabat dan kawan). -Imam Asy-Syafi'i



Itu mungkin gambaran yang aku dapatkan dari Angklung IKF. Aku merasakan kehangatan keluarga, teman, dan semangat untuk kembali bermusik setelah tahun 2013 lalu aku meninggalkan Indonesia, meninggalkan negaraku, keluargaku, teman-teman baikku, dan yang paling berat bandku dulu di SMA yang udah sempat jalan 3 tahun.

Indonesischer Kulturverein Franken atau dalam bahasa Indonesia perkumpulan orang indonesia di franken ini adalah sebuah naungan untuk penghuni di Franken yang ingin kembali menghidupkan Indonesia dalam konteks bermusik. Mereka telah aktif bermain angklung sejak tahun 2012, dan telah bermain di berbagai jenis panggung di Franken.

Saat awalnya aku bener bener kagum, bahwa mereka memainkan musik western memakai Angklung. Aku sendiri tidak habis mengira bahwa bakal akan ada seseorang yang memiliki ide seperti ini. Sebut saja Pak Yoga. Dia adalah sosok penting dalam band „Angklung IKF“ ini. Ia adalah mastermind dibalik semua lagu yang kita mainkan di Angklung IKF. Tentunya juga Tante Vera, dirijen kami yang pastinya tidak kalah penting untuk melatih kita para pemain Angklung IKF untuk bermain dengan baik dan benar untuk pentas kami.

Aku sendiripun juga termasuk baru di Angklung IKF. Dari acara HUT IKF tahun 2016 saya beruntung mendapatkan kesempatan untuk menjadi main vocal di band Angklung IKF. Berawal dari ke-isengan mengisi acara Hari Ulang Tahun IKF bersama band akustik kecil, saya mendapatkan promotion.

Hal yang mungkin lebih berarti dari semua itu adalah wajah para penonton yang benar benar surprised saat di pentas kami, saat mereka mengetahui bahwa Angklung sendiri hanyalah potongan bambu, dan kami bisa memainkan beberapa lagu yang mereka kenal. Di sebuah diskotik „E-Werk“ aku pernah melihat wajah si Sound Engineer yang terpukau saat kami memainkan Angklung.


...
Suasana Ke-Keluargaan
...
Saat Latihan
...
Sehabis Perform

„99 Luftballon“ dari Nena, adalah salah satu lagu Hits di Jerman pada masanya. „Hey Jude“ dari The Beatles. „We Are The World“ dari Michael Jackson, dan tentunya tidak lupa kami memainkan lagu tradisional indonesia seperti „Gundul-Gundul Pacul“. Itulah lagu-lagu yang kami bawakan di pentas terakhir kami.

Sebenernya tinggal di erlangen ngga bikin kalian mati gaya juga kok. Masih banyak aktifitas seru yang bisa dilakukan bareng temen-temen. Yes, that's the point "Friends". Selama ada mereka hidup dikota kecil bisa lebih berwarna. So, jangan takut untuk kuliah atau praktikum di Erlangen, hanya karna ruang gerak kalian limited dan jangan sungkan buat temen-teman lain yang mau berkunjung ke erlangen. Feel free to explore and find the unexpected things.

Bagiku mereka adalah keluarga, sebuah band, sebuah tempat berbagi cerita, sebuah tempat untuk menggali skill bermusik, dan tentunya sebuah cerita yang kelak akan saya bagikan untuk Orang Indonesia diluar sana. Kita bisa saja jauh dari Indonesia. Kita bisa jauh dari keluarga, teman, dan kerabat di Indonesia. Tapi percayalah, saat kamu merantau, kamu akan menemukan pengganti orang-orang tersebut. Saat kamu merantau, kamu akan mengerti seberapa „cantik“ Indonesia, dan seberapa „manis“-nya pulang ke Indonesia. Tentunya kamu akan menemukan juga semangat, bahwa sebenarnya Indonesia memiliki bayak hal yang engkau bisa perkenalkan ke penjuru dunia lainnya. Kalau aku memperkenalkan penduduk Franken di Jerman tentang „Angklung“, apakah yang telah kau perkenalkan kepada penduduk jerman di sekelilingmu tentang Indonesia?


About author


Mirza Nur Anshari

Mirza Nur Anshari Sekarang menjabat sebagai Iptek Wing Kanan di kepengurusan PPI Franken 2016 - 2017

Dia Di jerman sejak 2013 dan sekarang sedang berkuliah di FAU Erlangen jurusan Molekulare Medizin semester 3.